mengenal lebih dekat apa itu overthinking

Pernahkah kamu mendengar istilah overthinking? 

Atau justru sering mengalaminya? 

Bagaimana sih cara mengatasinya?

Mengatasi overthinking ini bisa saja sulit dilakukan. Pikiran melayang kemana-kemana dan sulit dihentikan. 

Penyebabnya bisa bermacam-macam dan berbeda tiap orang. 

Overthinking bisa jadi kebiasaan buruk yang berdampak fatal, lho.  

Tapi tenang, karena kamu tidak sendirian dalam melawan overthinking ini. 

Tentunya overthinking tidak baik jika dibiarkan berlarut-larut ya. 

Jadi, simak dulu penjelasan overthinking dan cara mengatasinya di bawah ini!

Table of Contents

Apa itu Overthinking?

Jika disederhanakan, overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan, seolah tidak ada ujungnya.

Seorang overthinker biasanya akan memikirkan sesuatu yang telah terjadi dan yang masih akan tapi belum terjadi. 

Kebiasaan ini bisa terjadi pada siapa saja di segala usia.

Penyebabnya bisa karena terlalu fokus akan satu kekhawatiran. 

Walau kekhawatiran itu normal, tapi jika berlebihan bisa mengganggu kualitas hidup dan kesehatan mental kamu. 

Karena overthinking dilakukan berulang kali, lama-kelamaan akan berubah menjadi kebiasaan yang terekam di alam bawah sadar.

Apa Saja Contoh dari Overthinking?

Setelah tahu arti overthinking, kamu bisa mulai cek diri sendiri. 

Sebenarnya kamu punya kebiasaan ini gak sih? Seperti apa contohnya? 

1. Terlalu memikirkan perkataan orang lain

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita berinteraksi dengan orang lain.

Ada kalanya mereka akan memberi komentar tentang dirimu. 

Kamu bisa saja memikirkan perkataan mereka secara terus-menerus.

Bahkan dalam kasus tertentu, komentar positif pun selalu terngiang.

Jika mereka berkomentar negatif, kamu akan merasa insecure, kurang pede, dan terus memikirkannya. 

Sementara saat komentarnya positif, kamu bisa larut dalam perkataan mereka. 

Kadarnya bisa berlebihan dan bisa juga mengganggu pikiran.

2. Terus menganalisis masalah

Permasalahan, rintangan, maupun kesulitan akan selalu ada dalam hidup.

Tapi seorang overthinker cenderung berpikir berlebihan tentangnya.

Ada kalanya overthinker menjelma menjadi peneliti yang terus mengamati masalah sampai ujung akar.

Padahal belum tentu masalah yang dihadapi itu rumit, kadang hanya masalah sehari-hari biasa.

3. Khawatir akan masa depan

Tidak jarang seseorang terus-menerus merasa cemas dan berpikir bahwa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.

Misalnya, merasa akan gagal dalam project akhir tahun, merasa akan ada perubahan iklim yang mengacaukan seluruh dunia. 

Sebenarnya, khawatir akan masa depan memunculkan dua sisi, baik dan buruk. 

Jika berdampak baik, seseorang yang takut gagal akan lebih termotivasi untuk belajar lebih. 

Sebaliknya, orang juga bisa tidak fokus akan masa depan dan tidak sempat mempersiapkan hari esok karena terlalu banyak berpikir.

4. Merenungi masa lalu

Tidak hanya memikirkan sesuatu yang akan terjadi, overthinker juga banyak memikirkan masa lalu. 

Entah itu kesalahan yang pernah diperbuat atau luka yang pernah dialami. 

Hal ini juga punya dua sisi. Pertama, memperbaiki kesalahan di masa lalu dan mengulang kesempatan lebih baik.

Sisi lainnya ialah terus berlarut-larut dalam penyesalan dan membuat overthinker berhenti dan mundur dari hal yang diinginkan.

5. Sering ragu akan keputusan sederhana

Tidak jarang seorang pemikir ragu pada keputusan yang relatif sepele.

Misalnya, “Apakah baju yang aku pakai sudah sesuai dengan resto yang akan kukunjungi?”

Contoh lain, “Jika aku memilih baju pink daripada baju biru, apa yang akan dipikirkan orang? bagaimana cara mengubah pandangan orang? bagaimana jika itu membuatku menonjol?”

6. Putus asa

Kadang berpikir yang tidak terkendali akan memunculkan perasaan putus asa, misalnya seperti: 

  • “Aku gak bisa melakukan ini.” 
  • “Segalanya tidak akan pernah menjadi lebih baik.” 
  • “Tidak ada gunanya mencoba.”

Pikiran itu saling terkait dengan pemikiran tentang masa depan dan keadaan saat ini. 

Terjebak dalam lingkaran pikiran negatif ini akan membuat otak bekerja lebih keras dan tidak produktif melakukan pekerjaan saat ini. 

Kenapa Orang Bisa Overthinking?

Pada dasarnya penyebab overthinking belum ada secara pasti. 

Tapi secara umum, berikut beberapa hal yang bisa mengakibatkan overthinking:

1. Stress yang cukup tinggi

Overthinking bisa disebabkan akibat tingkat stres cukup tinggi atau berlarut-larut.

Misalnya, saat sedang ada masalah cenderung dibiarkan dan akhirnya stres berlarut-larut. 

Atau saat ada pekerjaan, ditunda terus menerus dan membuat stres. 

Stres ini tentu akan memunculkan pikiran yang berlebihan atau overthinking. 

Lama-lama akan menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan. 

2. Keinginan serba instan

Contoh keinginan serba cepat dan instan yang dimaksud adalah hal yang sudah lama atau sedang diinginkan namun tidak kunjung didapatkan. 

Misalnya, saat dihadapkan dengan suatu masalah, pengen cepet-cepet diselesaikan tanpa memikirkan konsekuensi. 

Atau saat menginginkan sebuah tujuan, misalnya rumah. 

Ingin punya rumah dalam waktu dekat namun tidak ada aksi yang dilakukan.

Nah, keinginan serba cepat ini bisa memunculkan pikiran macam-macam, terlebih jika tidak segera mendapatkan yang diinginkan.

3. Perbedaan ekspektasi dan realita

Masih terkait dengan faktor nomor 2, keinginan atau ekspektasi yang terlampau tinggi tanpa aksi bisa menimbulkan fakta yang sebaliknya. 

Kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi yang sudah dibangun bisa memicu overthinking. 

Kamu akan terus berpikir berlebihan. Tidak sedikit pula yang kadang sampai takut untuk memulai kembali karena ini.

Baca juga: 10 Cara Istirahat yang Baik untuk Kesehatan Kamu

Apa Efek dari Overthinking?

Berikut beberapa dampak negatif yang bisa terjadi akibat overthinking:

1. Hari-hari menjadi kurang kondusif

Selain membuang waktu cuma-cuma, terus memikirkan sesuatu akan membuat tumbuh menjadi lebih mudah lelah dan stamina menurun.

Akibat overthinking juga kadang sulit terlelap di malam hari atau mudah terbangun di malam hari karena teringat masalah. 

Kurangnya waktu istirahat dan kelelahan yang terus terjadi akan membuat hari-hari menjadi kurang kondusif, rutinitas pun terganggu.

2. Kesulitan beraktivitas

Menjadikan overthinking kebiasaan berakibat pada menurunnya performa kerja. 

Seluruh aktivitas menjadi tidak stabil.

Selain itu, kamu akan sulit untuk fokus dan berkonsentrasi. 

Pikiran tidak hanya terpusat pada satu titik, tapi kemana-mana, tanpa aturan. 

Ketidakstabilan ini juga mempengaruhi hubungan. 

Seakan membangun tembok tinggi, akan semakin sulit untuk berinteraksi dengan orang lain.

3. Sulit menyelesaikan masalah

Meskipun sering berpikir berlebih, seorang overthinker akan kesulitan dalam menyelesaikan masalah. 

Sebaliknya, overthinker mencoba memahami dan memecahkan masalah dengan memikirkan masalah tersebut. 

Padahal terlalu berpikir justru mengganggu penyelesaian masalah. Misalnya kamu ketinggalan kartu ujian. 

Nah, overthinker justru lebih memikirkan masalah tersebut dibanding segera mencari solusinya. 

Hasilnya, masalah justru akan bertambah bukan berkurang. 

4. Sulit mengelola emosi

Alih-alih mendapatkan solusi untuk memecahkan masalah, kebiasaan berpikir secara berlebihan justru membuat emosi terus naik turun. 

Sulitnya mengelola emosi yang tidak stabil ini akan bermuara pada perasaan gelisah, amarah, hingga insecure. 

Overthinking dapat memicu pelampiasan emosi yang tidak sehat.

Misalnya mengonsumsi makanan tidak sehat atau alkohol berlebihan. 

Tak hanya itu, sulit kelola emosi juga menyebabkan kecenderungan menyendiri. 

Jadinya tidak bergairah bertemu orang dan mengurung diri.

5. Mengalami gangguan fisik dan mental

Tidak hanya berpengaruh negatif pada kesehatan mental, terlalu banyak berpikir juga berdampak pada kesehatan fisik. 

Overthinking akan membuatmu rentan mengalami pusing, jantung berdebar kencang, nyeri dada, demam, hingga hipertensi. 

Jika parah, bahkan bisa meningkatkan risiko terkena serangan jantung, diabetes, hingga stroke.

Bagaimana Cara Berhenti Overthinking?

Karena ini kebiasaan buruk, tentu saja harus dihilangkan.

Bagaimana cara mengatasinya? Berikut jawabannya:

1. Evaluasi kejadian

Kamu bisa mencoba melakukan evaluasi: 

“Sebenarnya apa sih yang membuatmu overthinking?” 

Jujur sama semua yang kamu rasakan.

Dengan mengetahui hal ini, kamu bisa berpikir lebih jernih untuk mengambil langkah selanjutnya. 

Misalnya, sedang cemas karena pekerjaan. 

Nah, kamu bisa merenungkan apa yang membuat kamu cemas akan pekerjaanmu.

2. Fokus pada hal yang bisa dikontrol

Hal-hal seperti perkataan orang lain, apa yang akan terjadi di masa depan merupakan sesuatu di luar kendali atau kontrol diri. 

Hal yang sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa pada situasi yang sedang kamu alami. 

Ada baiknya lebih fokus pada hal yang bisa kamu kontrol.  

Contohnya sikap yang perlu diambil, pemikiran yang lebih luas, dan lainnya.

3. Ungkapkan ke orang kepercayaan

Cerita ke orang kepercayaan apa sih sebenarnya yang sedang kamu pikirkan. 

Selain meminta feedback dari orang terdekat, kamu juga bisa bertanya ke orang yang pernah mengalami masalah yang sama denganmu.

Harapannya adalah kamu bisa memperluas pandangan tentang masalah dan apa yang semestinya dilakukan.

4. Curahkan pikiran lewat tulisan

Jika kamu tidak bisa cerita ke orang lain atau kamu merasa tidak bisa menaruh kepercayaan, mencurahkan lewat tulisan bisa jadi solusinya. 

Tidak semua hal memang bisa diceritakan ke orang lain, lewat tulisan kamu bisa menjadi diri sendiri. 

Misalnya kamu sedang overthinking dan bingung cerita sama siapa. 

Caranya tulis aja semua hal yang sedang mengganggu. 

Bisa di notes handphone, laptop, atau buku diary. 

Yang perlu digaris bawahi adalah kamu bisa menyalurkan pikiranmu secara sehat.

5. Apresiasi diri sendiri

Kadang terlalu fokus memikirkan masalah saat ini membuat diri sendiri lupa untuk mengapresiasi diri.  

Ingat setiap usaha dan pencapaian yang sudah kamu raih. Tidak harus besar, pencapaian kecil juga perlu kamu apresiasi. Misalnya: 

  • “Terima kasih sudah rajin bangun pagi.” 
  • “Terima kasih sudah berolahraga hari ini.” 
  • “Terima kasih tetap bertahan walau tidak mudah.”

Apresiasi sederhana bisa membantumu meredakan overthinking dan membuat pikiran tenang kembali.

Apakah Overthinking Bisa Merusak Mental?

Tahu gak sih kalau overthinking bisa mengganggu kinerja otak? 

Stres akan menghasilkan hormon kortisol yang bisa merusak sel otak di hipokampus. 

Bagian otak yang rusak ini ialah otak besar yang berperan untuk mengatur navigasi ruang dan fungsi memori.  

Overthinking juga memicu stres kronis yang berakibat pada gangguan kecemasan dan gangguan suasana hati.

Penutup

Nah, itulah penjelasan tentang overthinking, penyebabnya, hingga cara mengatasinya. 

Jika dibiarkan, bisa berbahaya untuk kesehatan kamu. 

Karena itu, jangan biarkan diri terus tenggelam dalam kondisi tersebut ya. 

Move up dan yakini bahwa semua akan ada hikmahnya. 

Kamu pernah mengalami atau sudah berhasil melaluinya? Share di kolom komentar yuk!

Artikel Terkait Lainnya