5 Penyebab Bayi Lahir Prematur dan Penanganannya

5 Penyebab Bayi Lahir Prematur dan Penanganannya
Aul Risky
Aul Risky
May 21, 2024
7 menit membaca

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum mencapai usia kehamilan 37 minggu. Kehamilan normal biasanya berlangsung sekitar 40 minggu, jadi bayi yang lahir lebih awal dari tiga minggu sebelum tanggal perkiraan melahirkan dikategorikan sebagai prematur. Bayi-bayi ini sering kali memiliki berat lahir yang lebih rendah dan mungkin memerlukan perawatan khusus untuk membantu mereka berkembang baik karena organ-organ mereka belum berkembang sepenuhnya.

Yuk kenali penyebab, gejala, penanganan, hingga cara mencegah kelahiran prematur selengkapnya melalui artikel berikut ini.

Ingin tahu lebih banyak mengenai cara hidup sehat? Temukan rahasianya di sini

Penyebab Bayi Lahir Prematur

Penyebab Bayi Lahir Prematur

Berikut adalah beberapa penyebab umum dari kelahiran prematur:

Faktor Kesehatan Ibu

  1. Infeksi dan peradangan: Infeksi, khususnya infeksi saluran kemih, infeksi amnion (amnionitis), dan infeksi sistemik lainnya dapat memicu kelahiran prematur.
  2. Komplikasi kehamilan: Masalah dengan plasenta seperti plasenta previa atau pelepasan plasenta prematur, dan kondisi seperti preeklampsia atau eclampsia, yang melibatkan tekanan darah tinggi selama kehamilan.
  3. Masalah serviks: Inkompetensi serviks, di mana serviks melemah dan membuka terlalu dini, bisa menyebabkan kelahiran prematur.
  4. Kondisi medis kronis: Diabetes, hipertensi, dan gangguan ginjal atau autoimun pada ibu dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Gaya Hidup dan Faktor Lingkungan

  1. Konsumsi alkohol, rokok, dan narkoba: Penggunaan zat-zat ini selama kehamilan telah terbukti meningkatkan risiko kelahiran prematur.
  2. Nutrisi yang buruk: Asupan nutrisi yang tidak adekuat selama kehamilan bisa berkontribusi pada kelahiran prematur.
  3. Stres berat: Stres fisik dan emosional berat selama kehamilan dapat mempengaruhi hormon dan memicu persalinan prematur.

Faktor Bayi

  1. Kehamilan multipel: Mengandung lebih dari satu bayi (kembar, triplet, dll.) meningkatkan kemungkinan kelahiran prematur karena ruang dan sumber daya yang dibagi antara bayi-bayi tersebut.
  2. Kelainan kongenital: Masalah pada perkembangan bayi dalam kandungan juga bisa menyebabkan kebutuhan akan kelahiran prematur.

Faktor Lain

  1. Riwayat kelahiran prematur: Wanita yang sebelumnya melahirkan bayi prematur lebih mungkin untuk mengalami kelahiran prematur pada kehamilan berikutnya.
  2. Usia ibu: Ibu yang sangat muda (remaja) atau lebih tua (di atas 35 tahun) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan prematur.
  3. Jarak kehamilan yang singkat: Waktu yang singkat antara kehamilan bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Pengelolaan Risiko

Mengelola kondisi kesehatan yang ada, memperbaiki gaya hidup, dan pemantauan kehamilan secara rutin adalah penting untuk mengurangi risiko kelahiran prematur. Konsultasi dan perawatan prenatal yang teratur dengan profesional kesehatan dapat membantu mengidentifikasi dan mengelola potensi risiko kelahiran prematur

Baca Juga: Bayi Rewel? Ini Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi!

Gejala kelahiran prematur

Gejala kelahiran prematur

Gejala kelahiran prematur sering kali menunjukkan tanda-tanda bahwa persalinan mungkin akan segera terjadi. Penting bagi wanita hamil untuk menyadari gejala-gejala ini, karena pengenalan dan penanganan dini dapat membantu mencegah atau menunda kelahiran prematur. Berikut adalah beberapa gejala yang paling umum dari kelahiran prematur:

  • Kontraksi

Rasa mengencang secara teratur di perut yang terjadi lebih dari empat kali dalam satu jam bisa merupakan tanda awal dari persalinan prematur. Kontraksi ini mungkin terasa seperti kram menstruasi.

  • Perubahan pada keputihan

Peningkatan jumlah keputihan, keputihan berdarah, atau lendir bercampur dengan darah bisa menjadi tanda bahwa serviks (leher rahim) mulai membuka atau menipis.

  • Tekanan di panggul

Rasa berat atau tekanan di panggul, seolah-olah bayi sedang menekan ke bawah, dapat menunjukkan bahwa bayi berada dalam posisi untuk keluar.

  • Nyeri punggung

Nyeri punggung yang konstan, khususnya di bagian bawah, yang tidak hilang dengan perubahan posisi atau istirahat.

  • Sering kram pada Sekitar Perut

Kram yang mirip dengan kram menstruasi, yang bisa juga disertai dengan diare, adalah tanda lain dari kemungkinan persalinan prematur.

  • Pecah ketuban

Keluarnya cairan dari vagina dalam jumlah besar atau tetesan yang terus-menerus, yang bisa merupakan tanda bahwa membran amniotik telah pecah dan cairan ketuban bocor.

  • Perdarahan pada Miss V

Perdarahan dari Miss V yang tidak biasa dan tidak terkait dengan pemeriksaan vagina atau hubungan seksual dapat menjadi indikasi adanya masalah.

Jika mengalami satu atau lebih dari gejala-gejala ini, sangat penting bagi wanita hamil untuk segera menghubungi dokter atau pergi ke unit gawat darurat. Pengenalan dini dan intervensi medis bisa sangat penting dalam mengelola kelahiran prematur dan meningkatkan hasil yang baik bagi ibu dan bayi.

Enggak perlu ribet, cuma dari handphone aja kamu sudah bisa chat dokter sepuasnya lho.

Dapatkan manfaat asuransi kesehatan online dari Rey, mulai dari chat dokter sepuasnya, tebus obat gratis, hingga cover rawat inap!

Info selengkapnya klik di sini.

Diagnosis Kelahiran Prematur

Diagnosis kelahiran prematur umumnya melibatkan pengamatan gejala dan penggunaan beberapa tes medis untuk menentukan apakah seorang wanita berisiko atau sedang mengalami persalinan prematur. Inilah beberapa pendekatan dan teknik yang digunakan dalam diagnosis kelahiran prematur:

1. Evaluasi Gejala

Dokter akan menanyakan tentang gejala yang mungkin dialami wanita, seperti kontraksi, perubahan keputihan, perdarahan, atau pecahnya ketuban. Informasi ini membantu menentukan kemungkinan persalinan prematur.

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik termasuk memeriksa serviks untuk melihat apakah terjadi pembukaan atau pengpendekan (efasemen) yang merupakan tanda persalinan sedang berlangsung.

3. Ultrasonografi (USG)

USG dapat digunakan untuk mengukur panjang serviks. Serviks yang memendek bisa menunjukkan risiko lebih tinggi untuk kelahiran prematur. USG juga membantu dalam menilai kondisi bayi, termasuk posisi dan perkembangannya.

4. Tes Fetal Fibronectin (fFN)

Tes ini melibatkan pengambilan sampel dari cairan vagina. Fetal fibronectin adalah protein yang berfungsi sebagai “lem biologis” yang membantu mengikat membran amnion dengan lapisan dalam rahim. Keberadaan fFN dalam sekresi vagina antara 22 hingga 34 minggu kehamilan dapat menunjukkan risiko tinggi kelahiran prematur.

5. Monitore Kontraksi

Penggunaan monitor kontraksi, baik di rumah atau di rumah sakit, bisa membantu mendeteksi dan merekam kontraksi rahim. Ini berguna untuk menentukan aktivitas kontraksi yang mungkin menunjukkan awal dari persalinan.

6. Tes Laboratorium

Dalam beberapa kasus, tes darah atau urin mungkin diperlukan untuk memeriksa infeksi atau kondisi lain yang bisa berkontribusi terhadap risiko kelahiran prematur.

7. Amniosentesis

Dalam situasi tertentu, amniosentesis mungkin dilakukan untuk menilai kondisi fetal, mencari infeksi, atau menilai kematangan paru-paru bayi, yang sangat penting jika kelahiran prematur tidak dapat dihindari dan diperlukan intervensi medis.

Baca Juga: Penyebab Napas Bayi Grok Grok dan Cara Ampuh Mengatasinya!

Penanganan Kelahiran Prematur

Penanganan Kelahiran Prematur

Penanganan kelahiran prematur melibatkan serangkaian intervensi yang dirancang untuk mendukung kesehatan ibu dan bayi, serta untuk menunda kelahiran jika mungkin dan aman untuk dilakukan. Berikut adalah beberapa pendekatan utama dalam penanganan kelahiran prematur:

1. Pengelolaan Risiko Persalinan Dini

Jika terdapat tanda-tanda awal persalinan prematur, dokter mungkin merekomendasikan:

  • Penghentian aktivitas fisik: Istirahat untuk mengurangi risiko persalinan yang berlanjut.
  • Penggunaan Tokolitik: Obat-obatan yang dapat menunda persalinan dengan menghentikan atau mengurangi kontraksi rahim.
  • Pemberian Kortikosteroid: Steroid ini diberikan kepada ibu untuk mempercepat pematangan paru-paru bayi, yang sangat penting untuk bayi yang terancam lahir prematur.
  • Pengobatan untuk memperbaiki kondisi spesifik: Seperti infeksi yang mungkin telah memicu persalinan prematur.

2. Pemantauan di Rumah Sakit

Wanita dengan risiko tinggi melahirkan prematur mungkin perlu dirawat di rumah sakit untuk pemantauan ketat, termasuk pemantauan kontraksi, status bayi, dan kesehatan ibu.

Baca Juga: Penyebab Bayi Muntah Setelah Minum ASI, Lengkap dengan Cara Mengatasinya

3. Perawatan Neonatal Intensif

Bayi yang lahir prematur biasanya membutuhkan perawatan khusus di Unit Perawatan Intensif Neonatal (NICU):

  • Dukungan Pernapasan: Banyak bayi prematur memerlukan bantuan untuk bernapas, yang mungkin termasuk oksigen melalui topeng atau ventilasi mekanis.
  • Nutrisi Khusus: Bayi prematur mungkin memerlukan pemberian nutrisi melalui infus atau melalui tabung ke perut karena mereka sering belum cukup kuat untuk menyusu secara efektif.
  • Pengaturan Suhu Tubuh: Bayi prematur sering kesulitan menjaga suhu tubuhnya, sehingga perlu ditempatkan dalam inkubator untuk menjaga kehangatan tubuh mereka.
  • Pemantauan Lanjutan: Pemantauan terus-menerus terhadap fungsi vital, kondisi medis, dan perkembangan bayi sangat penting.

4. Dukungan Jangka Panjang

Bayi yang lahir prematur mungkin mengalami tantangan kesehatan dan perkembangan jangka panjang:

  • Pengaturan Tindak Lanjut: Kunjungan rutin ke dokter spesialis anak, terapi fisik, terapi okupasi, dan dukungan perkembangan lainnya mungkin diperlukan.
  • Evaluasi dan Intervensi Perkembangan: Bayi prematur sering memerlukan evaluasi berkala untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah perkembangan atau kognitif sejak dini.

5. Dukungan untuk Keluarga

Menyediakan sumber daya dan dukungan untuk keluarga adalah penting, termasuk konseling dan dukungan emosional untuk membantu mereka mengatasi tekanan memiliki bayi yang memerlukan perawatan intensif.

Penutup

Itulah penjelasan mengenai bayi prematur. Kelahiran prematur memerlukan pemahaman yang mendalam dan sering kali pendekatan yang hati-hati dalam perawatannya.

Dengan kemajuan dalam teknologi medis dan perawatan neonatal, banyak bayi prematur yang berhasil bertahan dan tumbuh menjadi anak-anak yang sehat. Namun, dukungan awal dan berkelanjutan sangat penting untuk memastikan hasil terbaik bagi mereka.

Masih ada pertanyaan seputar topik ini? Tulis di kolom komentar, yuk!

Yuk, coba 2 bulan chat dokter sepuasnya + klaim obat GRATIS! Klik banner di bawah untuk info selengkapnya, ya!

Kembali
Rekomendasi Artikel
February 28, 2024
Penyakit Bell’s Palsy: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Pernah mendengar penyakit Bell’s palsy? Banyak yang mengira Bell’s palsy sebagai stroke karena sama-sama bisa...

Aul Risky Aul Risky
6 menit membaca
June 20, 2023
10 Penyebab Sakit pada Telapak Kaki dan Cara Mengobatinya

Sering merasakan sakit pada telapak kaki? Kondisi sakit pada telapak kaki dapat memengaruhi berbagai area...

Dwi Julianti Dwi Julianti
9 menit membaca
February 14, 2024
Apa Itu Penyakit Rematik? Yuk Kenali Gejala, Penyebab, Pengobatan dan Pantangannya

Apakah kamu pernah mendengar penyakit rematik? Rematik atau biasa disebut dengan rheumatoid arthritis adalah penyakit...

Aul Risky Aul Risky
5 menit membaca